Tragedi Pandanarum: 17 Korban Meninggal Dunia dan 11 Korban Belum di Temukan

Iklan

Iklan

Iklan

Tragedi Pandanarum: 17 Korban Meninggal Dunia dan 11 Korban Belum di Temukan

Rabu, 26 November 2025, 15:42

Doc. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)). 

FAJARTERKINI.COM, Banjarnegara – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, resmi dihentikan pada Selasa (25/11/2025) setelah berlangsung selama sepuluh hari.


Keputusan tersebut diambil melalui evaluasi bersama seluruh unsur terkait, mempertimbangkan kondisi lapangan yang dinilai tidak lagi aman bagi tim SAR.


BNPB, Basarnas, dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyatakan bahwa penghentian operasi menjadi keputusan berat, terutama bagi keluarga korban yang masih menunggu kepastian nasib kerabat mereka.


Namun kondisi tanah yang masih labil, cuaca tidak menentu, serta kedalaman timbunan material dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan petugas.


“Pertimbangan keselamatan menjadi prioritas utama. Risiko di lapangan semakin meningkat,” demikian keterangan resmi BNPB.


Selama pelaksanaan operasi, petugas menghadapi medan yang sulit dan material longsoran yang basah sehingga menyulitkan proses pencarian dan identifikasi jenazah.

Doc. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Meski begitu, tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI-Polri, PMI, Tagana, BPBD lintas daerah, pemerintah daerah, relawan, serta dukungan alat berat dan operasi modifikasi cuaca telah diterjunkan secara maksimal.


Pada hari terakhir operasi, tim berhasil menemukan lima jenazah tambahan. Seluruhnya telah dibawa ke RSUD Banjarnegara untuk proses identifikasi. Dengan temuan itu, total korban meninggal dunia menjadi 17 orang, termasuk dua bagian tubuh manusia. Sebanyak 11 korban lainnya belum ditemukan.


Penutupan operasi SAR ditandai dengan doa bersama dan tabur bunga di lokasi longsor, dihadiri keluarga dan kerabat korban. Suasana haru mewarnai prosesi tersebut.


Selain menelan korban jiwa, bencana longsor ini menyebabkan empat warga luka-luka dan memaksa 1.019 jiwa dari 343 KK mengungsi ke lima lokasi pengungsian maupun rumah penduduk.


Kerusakan material meliputi 206 rumah roboh, dua masjid, satu musala, jalur antardesa sepanjang 800 meter tertutup material, saluran irigasi sepanjang 670 meter rusak, area persawahan terdampak, serta hilangnya lima ekor sapi dan 125 kambing. Sebanyak tiga warung sembako, 11 warung lain, dan 24 kolam ikan turut terdampak.


BNPB memastikan dukungan terhadap warga terdampak tetap berlanjut meski operasi SAR telah ditutup. Bantuan mencakup pendampingan psikososial, pemenuhan hak keluarga korban, serta pendampingan administratif bagi keluarga korban yang belum ditemukan. Layanan informasi disediakan melalui posko terpadu di Kecamatan Pandanarum.

Doc. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tahap pemulihan kini menjadi fokus pemerintah. Relokasi warga dari zona merah akan diprioritaskan, termasuk perataan rumah yang berada di titik rawan. Warga diberikan kesempatan mengambil barang berharga sebelum proses tersebut dilakukan.


BNPB menargetkan pembangunan 50 hunian sementara (huntara) tahap awal rampung sebelum akhir Desember, sebelum dilanjutkan pembangunan hunian tetap (huntap). Penyaluran santunan bagi keluarga korban akan dilakukan oleh Dinas Sosial sesuai ketentuan.


Selain itu, pemulihan layanan publik seperti pendidikan dan aktivitas ekonomi juga dipercepat. Pemetaan risiko, penataan kawasan, dan penguatan mitigasi berbasis ekologi terus dilakukan agar bencana serupa tidak terulang.


BNPB menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi SAR, mulai dari petugas, relawan, organisasi masyarakat, tokoh agama hingga warga setempat. Gotong royong masyarakat dinilai menjadi kekuatan utama dalam menghadapi masa krisis ini.***

TerPopuler